Sabtu, 17 November 2012

empati

A.    Empati
Empati dalam konseling merupakan hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut. Empati merupakan dasar hubungan interpersonal. Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima, karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat non verbal orang lain. Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Dalam kepustakaan konseling ditegaskan tentang keefektifan konseling (counseling effectiveness) lebih ditentukan dari kecakapan konselor. Oleh karena itu, peran empati cukup esensial yang diakui dalam teori-teori konseling, sehingga empati yang diwujud-nyatakan dalam praktik konseling selama ini merupakan suatu keniscayaan untuk ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat kita.

B.    Beberapa pengertian empati
1.    Empati suatu istilah umum yang dapat digunakan untuk pertemuan, pengaruh dan interaksi di antara kepribadian-kepribadian. “ Empati ” merupakan arti dari kata “einfulung” yang dipakai oleh para psikolog Jerman. Secara harfiah ia berarti “merasakan ke dalam”. Empati berasal dari kata Yunani “pathos”, yang berarti perasaan yang mendalam dan kuat yang mendekati penderitaan, dan kemudian diberi awalan “in”. Kata ini paralel dengan kata “ simpati “. Tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Bila simpati berarti merasakan bersama dan mungkin mengarah pada sentimentalitas, maka empati mengacu pada keadaan identifikasi kepribadian yang lebih mendalam kepada seseorang, sedemikian sehingga seseorang yang berempati sesaat melupakan/ kehilangan identitas dirinya sendiri. Dalam proses empati yang mendalam dan misterius inilah berlangsung proses pengertian, pengaruh dan bentuk hubungan antar pribadi yang penting lainnya
2.    George & Cristiani (1981), empati adalah kemampuan untuk mengambil kerangka berpikir klien sehingga memahami dengan tepat kehidupan dunia dalam dan makna-maknanya dan bisa dikomunikasikan kembali dengan jelas terhadap klien. Dengan berempati, memungkinkan konselor untuk mendengar dan bereaksi terhadap kehidupan perasaan klien, yakni : marah, benci, takut, menentang, tertekan, dan gembira.
3.    Stewart (1986) merumuskan empati sebagai kemampuan untuk menempatkan diri di tempat orang lain supaya bisa memahami dan mengerti kebutuhan dan perasaannya. Empati menuntut untuk masuk ke pandangan dunia klien dan untuk melihat dengan mata mereka dan selanjutnya “to walk in their shoe”.
4.    Rogers, empati berarti memasukkan dunia klien beserta perasaan-perasaannya ke dalam diri sendiri tanpa terhanyut oleh pikiran dan perasaan klien (Hackney, 1978).
5.    Menurut Sutardi (2007), pengertian empati dapat dianggap kelanjutan dari toleransi. Empati dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain oleh seorang individu atau suatu kelompok masyarakat.

Dari definisi empati diatas dapat disimpulkan. Empati merupakan suatu aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain, serta apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh yang bersangkutan terhadap kondisi yang sedang dialami orang lain, tanpa yang bersangkutan kehilangan kontrol dirinya.  Empati berperan penting dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pengasuhan, pendidikan, manajemen, hingga tindakan bela rasa dan percintaan. Empati dibangun pada lingkup self-awareness (kesadaran diri). Makin terbuka terhadap emosi kita sendiri, makin terampil kita dalam memahami perasaan orang lain. Emosi tidak banyak diekspresikan dalam kata-kata, justru ia lebih banyak diekspresikan dalam isyarat-isyarat nonverbal, seperti intonasi suara, gerakan bagian tubuh, ekspresi wajah. Maka kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemaha`man terhadap isyarat-isyarat nonverbal orang lain.
Empati sangat dibutuhkan dalam relasi terapeutik. Bahkan dalam terapi client centered, iklim terapi, yang diwarnai empati menjadi syarat utama yang akan memberi efek mendukung bagi tumbuhnya konsep diri positif pada klien atau konseli, sehingga konseli dapat mengatasi persoalannya sendiri. Lebih lanjut dapat diungkapkan bahwa mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antar manusia, maka upaya melatih dan mengembangkan empati di keluarga-keluarga, sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya perlu dilakukan sedini mungkin.

C.    Perbedaan Simpati dengan Empati
Simpati    Empati
1.    Berasal dari bahasa yunani “ feeling with”
2.    Proses yang terjadi kurang begitu mendalam
3.    Didasarkan faktor kesamaan
4.    Merupakan respons atas need for closeness and support
5.    Lebih spontan, biasanya dalam bentuk reaksi emosional    1.    Berasal dari bahasa yunani “ feeling in”
2.    Proses yang terjadi lebih mendalam
3.    Didasarkan pada penerimaan perbedaan individual
4.    Merupakan upaya-upaya pemahaman terhadap kondisi orang lain.
5.    Berbasis pada faktor kognitif dan afektif

D.    Makna Penting Empati
Menurut Rogers dalam Konseling dan Psikoterapi (Gunarsa Singgih, 1992, hal. 72), empati bukan hanya sesuatu yang bersifat kognitif namun meliputi emosi dan pengalaman. Juga diartikan sebagai usaha menglami dunia klien  sebagaimana klien mengalaminya. Karena itu, seorang kenselor harus berusaha memahami pengalaman klien dari sudut klien itu sendiri. Dalam makalahnya yang berjudul “ The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change ”(Kondisi Yang Harus Terjadi Dan Cukup Bagi Perubahan Pada Klien), Rogers mengemukakan tentang emphatic understanding, yakni kemampuan untuk memasuki dunia pribadi orang. Emphatic understanding merupakan salah satu dari tiga atribut yang harus dimiliki oleh seorang terapis dalam usaha mengubah perilaku klien. Atribut yang lain yaitu kewajaran atau keadaan sebenarnya (realness) dan menerima (acceptance) atau memperhatikan (care).
1.    Tanpa empati, tidak mungkin ada pengertian. Memahami secara empati merupakan kemampuan seseorang untuk memahami cara pandang dan perasaan orang lain. Memahami secara empati bukanlah memahami orang lain secara objektif, tetapi sebaliknya dia berusaha memahami pikiran dan perasaan orang lain  dengan cara orang lain tersebut berpikir dan merasakan atau melihat dirinya sendiri. Memahami klien berdasarkan kerangka persepsi dan perasaan klien sendiri oleh Rogers disebut internal frame of reference, artinya menggunakan kerangka pemikiran internal.
2.    Menurut Rogers empati konselor sebagai salah satu factor kunci yang membantu klien untuk memecahkan masalah personalnya. Ketika kita berempati kepada orang lain, kita meletakkan diri kita “in their shoes”, melihat dunia dari mata mereka, membayangkan bagaimana bila menjadi mereka, dan berusaha merasakan apa yang mereka rasakan.
3.    Faktor sosial dan budaya (seperti gender, etnis, perbedaan kultur) mempunyai pengaruh dalam pengekspresian emosi. Faktor ini mempengaruhi cara bagaimana konselor merespon secara emosional.
4.    Jika klien merasa dimengerti, maka mereka akan lebih mudah membuka diri untuk mengungkapkan pengalaman mereka dan berbagi pengalaman tersebut dengan orang lain. Klien yang membagi pengalamannya secara mendalam memungkinkan untuk menilai kapan dan di mana mereka membutuhkan dukungan, dan potensi kesulitan yang membutuhkan fokus untuk rencana perubahan.
5.    Saat klien melihat empati pada diri konselor, mereka akan lebih nyaman untuk dan tidak melakukan defend seperti penyangkalan, penarikan diri, dll. Artinya empati konselor mampu memfasilitasi perubahan pada klien. Sebaliknya akan lebih mau membuka diri terhadap dunia luar dengan cara yang lebih konstruktif. Karena itulah istilah empati ditambah menjadi perkataan “emphatic understanding”.

E.    Mengkomunikasikan Empati
Empati membutuhkan kemampuan konselor dan usaha untuk menempatkan ia pada posisi klien dan memahami dunia klien. Tetapi empati sendiri tidak akan efektif bila tidak di barengi dengan kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menunjukkan empati itu. Klien akan berfikir bahwa konselor berempati hanya jika mereka melihat dan percaya hal tersebut. Truax dan Carkhuff mengemukakan bahwa dalam memahami secara empati ini sangat perlu konselor menerima dan mengkomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal, secara akurat dan penuh kepekaan tentang perasaan dan makna perasaan itu. Ada tiga aspek dalam empati menurut Patterson (1980), yaitu:
1.    Keharusan bahwa konselor mendengarkan klien dan mengkomunikasikan persepsinya kepada klien.
2.    Ada pengertian atau pemahaman konselor tentang dunia klien; dan
3.    Mengkomunikasikan pemahamannya kepada klien.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merespon:
1.    Respon harus pendek dan to the point, menangkap esensi dari perasaan dan situasi.
2.    Bukan pengulangan dari apa yang orang lain katakanya. Diulangi dalam kata yang berbeda.
3.    Harus lebih dalam dari apa yang telah dikatakan, seperti menebak perasaan yang tidak diungkapkan (jika terkaan itu salah hal ini bukanlah masalah. Klien akan membenarkan dan menjelaskan).
Egan (1975, dalam Ivey et al, 1987) membedakan dua tipe untuk memahami “emphatic understanding”, yakni :
1.    Empati primer, adalah empati sebagaimana dikemukakan oleh Rogers.
        Membentuk fondasi dan atmosfer inti helping relationship. Termasuk mendengarkan semua pesan dan meresponnya. Kemampuan paraphrasing dan merefleksikan perasaan konselor dengan baik akan memulai dasar empati untuk memahami klien.
    Contoh perkataan :
-      “  Sekarang saya bisa merasakan betapa sedih Anda pada waktu itu”.
-    ”   Saya dapat merasakan apa yang anda rasakan.”
-    ”   Saya memahami apa yang telah anda lakukan.”
-    ”   Saya mengerti apa yang anda inginkan.”
2.    Empati lanjutan (advanced accurate emphaty)
        Memahami hal yang tersembunyi dari klien, bentuk dasar dari empati lanjutan adalah memberi respon dan pemahaman terhadap hal yang tidak langsung dikatakan klien. Di mana konselor memberikan lebih dari dirinya dan seringkali membutuhkan upaya langsung untuk mempengaruhi klien. Karena informasi itu selalu subjektif bagi interpretasi individu, konselor harus menyusun kembali situasi, kepercayaan, atau pengalaman untuk membantu klien melihatnya dari perspektif yang berbeda dan mengecek apakah interpretasi itu sudah benar.
         Advanced emphaty lebih kritis, mendalam, dan membahas masalah yang sensitif oleh karena itu dapat menyebabkan klien bertambah stress. Untuk mencegah klien mengalami emosi berlebihan dan melakukan perlawanan respon empati konselor harus bersifat sementara dan hati-hati.
    Contoh perkataan : “ Saya akan merasa sedih juga” ; ”Dari apa yang kamu katakan......” ; ” Apakah hal ini ......?” ; ”Sepertinya hal ini .......”

F.    Empati dalam Berbagai Perspektif
    Perbedaan-perbedaan pandangan tidak hanya terjadi pada disiplin ilmu yang berbeda, dalam internal psikologi konsep empati dapat dipandang secara berbeda oleh aliran-aliran di dalamnya. Di bawah ini akan diuraikan pendekatan-pendekatan teoritis yang telah dikembangkan oleh tiga aliran utama psikologi, yaitu: psikoanalisis, behaviorisme, dan humanisme.
1.    Perspektif Psikoanalisis
Teori-teori psikoanalisis menggambarkan kemunculan konsep empati lebih pada konteks interaksi emosional antara ibu dan anak. Yaitu bagaimana seorang ibu mampu meredakan kemarahan anak, memberikan pelukan kehangatan yang menenangkan, memberikan jalan keluar atas masalah yang dihadapi, dan seterusnya. Demikian pula tentang bagaimana anak bisa menempatkan diri dalam menanggapi ‘senioritas dan otoritas’ peran orang tua dalam keluarga.
Menurut psikoanalisis, empati merupakan pusat dari hubungan interpersonal. Dalam arti lain, kunci dari hubungan interpersonal adalah empati. Dalam hubungan keluarga, Harry S. Sullivan (salah satu tokoh psikoanalisis) memandang ibu dan anak berada di dalam satu ikatan hubungan empatik yang saling membutuhkan, dia menyebutnya sebagai empati primitif.
2.    Perspektif Behaviorisme
Para tokoh behaviorisme tertarik untuk menghubungkan empati dengan perilaku menolong yang diawali dengan sebuah pertanyaan mendasar “mengapa orang menolong”. Untuk menjawab pertanyaan ini mereka menjelaskan dengan berpijak pada teori classical conditioning dari Ivan Pavlov, yaitu perilaku menolong merupakan hasil dari pembelajaran sosial, yang meliputi conditioning (pembiasaan), modeling (keteladanan), dan insight (pemahaman).
Peranan pembelajaran dan perkembangan kognitif seiring dengan munculnya konsep empati telah dipahami oleh beberapa peneliti behaviorisme, meskipun kurang begitu diperhatikan. Misalnya, Aronfreed (2000) menyatakan bahwa empati dipelajari melalui proses pembelajaran di waktu anak-anak. Dalam pandangan ini empati berkembang melalui pengulangan-pengulangan perasaan anak melalui isyarat emosional orang lain.
Teori-teori Aronfreed lebih memfokuskan kepada perkembangan ketidaknyamanan personal dan aksi prososial daripada perkembangan terhadap sympathetic concern. Oleh karena itu, teori-teorinya lebih memfokuskan kepada mekanisme perkembangan empati.

3.    Perspektif Humanistik
Dalam teori-teori humanistik, khususnya dalam psikoterapi dikatakan bahwa hubungan terapeutik merupakan kunci sukses dalam psikoterapi. Namun demikian, menurut Bohart & Greenberg (1997), pengaruh yang besar tersebut masih kalah perannya dibandingkan dengan peranan empati. Hubungan terapeutik tidak akan sukses tanpa melibatkan empati didalamnya, Karena empati merupakan pintu masuk utama bagi kesuksesan sebuah terapi. Hal itu sejalan dengan pendapat Rogers (1986), bahwa empati adalah salah satu unsur kunci dalam menciptakan hubungan terapeutik.
Seiring dengan pertalian yang erat antara empati dan psikoterapi, hal itu menandakan bangkitnya ketertarikan terapis terhadap konsep-konsep empati untuk digunakan dalam praktik-praktik mereka. Ketertarikan mereka terlihat jelas pada periode 1960-an dan awal 1970. Dalam kurun waktu itu dilakukan sejumlah besar aktivitas penelitian untuk menguji hipotesis-hipotesis Carl Rogers tentang tiga kondisi terapis, yaitu penghargaan positif secara penuh, empati, dan hubungan keikhlasan (altruisme) antara klien dan terapis.

G.    Empati dalam Bidang-bidang Psikologi
    Satu abad setelah diperkenalkannya konsep empati, kini konsep empati telah berkembang luas khususnya dalam ilmu psikologi. Hal ini tidak lepas dari upaya-upaya simultan dari para ilmuwan untuk membangun konsep yang pada awal perkembangannya mengalami banyak pertentangan. Bidang-bidang psikologi yang secara intens mengembangkan konsep empati antara lain: psikologi kepribadian, psikoterapi, serta psikologi sosial dan perkembangan.
1.    Empati dalam Teori Kepribadian
Konsep empati relatif baru diperkenalkan dalam teori kepribadian, meskipun sesungguhnya secara implisit konsep empati telah masuk dalam teori kepribadian sejak awal digulirkannya. Karena semua yang dibicarakan dalam empati merupakan fenomena kepribadian. Para teoretikus lama sebenarnya tidak pernah mengkhususkan bahwa dirinya adalah teoretikus psikologi kepribadian, perkembangan, sosial maupun psikoterapi. Namun karena karya-karyanya banyak berpengaruh terhadap perkembangan bidang-bidang ilmu tersebut, para ilmuwan selanjutnya mengklasifikasikan mereka sesuai dengan bidang-bidang yang telah dibuat. Namun, ada beberapa ilmuwan yang tidak secara konsisten masuk hanya pada satu bidang, misalnya Carl Rogers. Ia dikenal sebagai ilmuwan lintas bidang, karena selain teori-teorinya banyak direfer oleh para ilmuwan dari psikologi kepribadian, teorinya juga diacu oleh para ilmuwan dalam bidang psikoterapi. Istilah empati sangat dekat dengan teori-teori konseling person-centered milik Rogers.
Sementara itu, Downey (1929) seorang psikolog yang cukup dikenal pada zamannya, memiliki ketertarikan dalam mengkaji konsep empati dari bidang ilmu estetika hingga kepribadian. Dalam memahami empati sebagai “feeling in”, Downey mengatakan bahwa hal itu tidak hanya mengandung arti sikap-sikap motorik dan emosional yang bersangkutan saja, melainkan juga diproyeksikan kepada orang lain (keluar dari diri yang bersangkutan).
Dalam buku kepribadian Gordon W. Allport Personality: A Psychological Interpretation yang ditulis pada tahun 1937 yang kemudian direvisi pada tahun 1961, Allport mendefinisikan empati sebagai perubahan imajinatif pada diri seseorang di dalam pikiran, perasaan, dan perilaku terhadap orang lain. Dia memercayai bahwa empati berada diantara inferensi (dugaan, kesimpulan atas kondisi orang lain) dan intuisi. Dalam kesimpulan di buku kepribadiannya, Allport membuat pernyataan tentang teka-teki rentang antara intuisi dan inferensi. Pernyataannya itulah kelak yang dikenal sebagai empati.
Satu decade berikutnya, G. Murphy dalam bukunya Personality: A Biosocial Approach to Origins and Structure (1947) tentang kepribadian mendefinisikan empati sebagai “tanggung jawab”. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang berempati itu harus dapat menempatkan diri sendiri pada kondisi orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Tiga tahun berikutnya (1950) dua tokoh psikologi kepribadian lainnya, Dollard dan Miller membuat standar definisi empati sebagai penyalinan (copying) perasaan-perasaan (feelings) atau tanggapan (responding) orang lain sesuai dengan tanda-tanda emosinya.
2.    Empati dalam Terapi
Empati didefinisikan oleh Rogers sebagai kemampuan untuk memandang kerangka berpikir internal orang lain secara akurat dengan komponen-komponen emosional yang saling berhubungan. Empati merupakan pengalaman individual seseorang yang seolah-olah berada pada posisi orang lain (Rogers, 1959). Namun sebaliknya psikoanalisis menekankan pada dorongan empati yang mengarah pada struktur ketidaksadaran terhadap pengalaman-pengalaman yang menitikberatkan pada eksistensi klien di dalam kehidupan, sementara bagi terapis-terapis client-centered, empati lebih memfokuskan pada pengalaman dan pemaknaan klien dari momen ke momen, dalam hal ini terapis mencoba secara imajinatif untuk memasuki pengalaman-pengalaman klien dalam mengemukakan pendapatnya dengan terapis (Bohart & Greenberg, 1997).
Dalam client-centered therapy, empati berbeda dengan anggapan-anggapan positif, dan simpati ataupun rasa iba. Menurut Rogers (1957), empati merupakan salah satu dari tiga “kondisi-kondisi terapeutik”, dimana menurutnya empati perlu dan penting untuk terjadinya perubahan terapeutik ke arah yang lebih baik. Rogers menyatakan empati bila dikomunikasikan dengan anggapan-anggapan positif akan memberikan kontribusi bagi klien untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
3.    Empati dalam Psikologi Sosial dan Perkembangan
Tonggak awal munculnya psikologi sosial ditandai dengan terbitnya buku An Introduction to Social Psychology karya McDougall (1908), hanya saja karya ini kurang begitu diminati oleh ilmuwan-ilmuwan lainnya. Selain McDougall, Allport (1924) juga menerbitkan buku Social Psychology. Dalam bukunya Allport banyak melakukan elaborasi atas topik-topik psikologi sosial yang ditulis oleh McDougall. Elaborasi Allport dibawa kepada wilayah-wilayah yang lebih mudah diterima kalangan ilmuwan lainnya pada waktu itu (American Psychology). Namun demikian, sebagaiman buku McDougall, dalam karya Allport ini masih belum menyinggung konsep empati.
Pada tahun 1960-an peminat kajian di bidang ini meningkat secara tajam. Meskipun pada bahasan awal tidak membahas konsep empati, namun mereka sudah mulai memperkenalkan variabel-variabel tergantung (dependent variables) dari empati, seperti helping, giving, intervening, dan lain sebagainya. Untuk menjelaskan variabel-variabel tergantung ini para ilmuwan menggunakan konsep-konsep motivasional, seperti altruism, dependence, mood, dan empati.

H.    Komponen-komponen Empati
1.    Komponen Kognitif
Komponen kognitif merupakan yang menimbulkan pemahaman terhadap perasaan orang lain. Hal ini diperkuat oleh pernyataan beberapa ilmuan bahwa proses kognitif sangat berperan penting dalam proses empati.
Hoffman (2000) mendefinisikan komponen kognitif sebagai kemampuan untuk memperoleh kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dari memori dan kemampuan untuk memproses informasi semantik melalui pengalaman-pengalaman.
Fesback (1997) mendefinisikan aspek kognitif sebagai kemampuan untuk membedakan dan mengenali kondisi emosional yang berbeda.
Eisenberg dan Strayer (1987) menyatakan bahwa salah satu yang paling mendasar pada proses empati adalah pemahaman adanya perbedaan antara individu (perceiver) dan orang lain.
Ada beberapa tingkatan-tingkatan dalam proses kognitif :
a.    Differenttiation of the self from others,  menurut piaget pada tahun pertama anak-anak belum mampu membedakan antara diri mereka dengan orang lain.
b.    The differentiation of emotional states, yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengenali dan mengingat bentuk-bentuk emosi yang berbeda yang didasarkan pada kedua isyarat efektif dan situasional.
c.    Social referencing and emotional meaning, menjelaskan bahwa ekspresi-ekspresi emosional orang tua menjadi penuntun atau contoh (guide) perilaku-perilaku anak di dalam sejumlah situasi yang berbeda-beda, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain.
d.    Labelling different emotional states, sehubungan pada kondisi-kondisi emosi dasar telah dikemukakan bahwa anak-anak pada usia emapat hingga lima tahun memilki keakuratan berpikir. Pada usia-usia tersebut mereka sudah mulai membedakan atau memahami perbedaan-perbedaan ekspresi.
e.    Cognitive role taking ability, kemampuan menempatkan diri sendiri kedalam situasi orang lain dalam rangka untuk mengetahui secara tepat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan orang itu (hoffman, 2000).
2.    Komponen Afektif
Dua komponen afaktif diperlukan untuk terjadinya pengalaman empati yaitu, kemampuan untuk mengalami secara emosi dan tingkat reaktivitas alam emosional yang memadai yaitu kecenderungan individu untuk bereaksi secara emosional terhadap situasi-situasi yang dihadapi termasuk emosi yang tampak pada orang lain. Untuk menjelaskan proses kogitif dan afektif ini, Oswald (1996) menggunakan konsep perspektif taking. Dia mendefinisikan perspektif taking sebagai konstrak  multidimensional yang dapat diatur secara konseptual dan metodis kedalam tiga kategori : ognitif, afektif, dan perseptual. Cognitive perspektive taking didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan orang lain.
3.    Komponen Kognitif dan Afektif
Thornton dan thornton (1995) melaporkan bahwa suatu alat ukur akan lebih mendekati pengertian empati9yang disetujui oleh sebagian besar ahli) dan lebih akurat, apabila instrument tersebut mengombinasikan dua pendekatan yaitu kognitif dan afektif.
4.    Komponen Komunikatif
Teoretikus mengatakan yang dimaksud komunikatif yaitu perilaku yang mengekspresikan perasaan-perasaan empatik (Bierhoff, 2002). menurut Wang dkk, (20003), komponen empati komunikatif adalah ekspresi dari pikiran-pikiran empatik (intelecctual empathy) dan perasaan-perasaan (empathic emotions) tehadap orang lain yang dapat diekspresikan melalui kata-kata dan perbuatan.

I.    Proses Empati
    Dalam menjelaskan proses empati berbagai pendapat telah menegemukakan, diantaranya mengatakan proses empati tergantung dari sudut pandang apa kita mendefinisikan konsep empati.
1.    Antecedents
Antecedent yaitu kondisi-kondisi yang mendahului sebelum terjadinya proses empati. Meliputi karakteristik observer (personal), target atau situasi yang terjadi saat itu. Empati sangat dipengaruhi oleh kapasitas pribadi observer. Seluruh reespon terhadap terhadap orang lain baik itu respon afektif maupun kognitif berasal dari beberapa konteks situasional khusus. Terdapat dua kondisi yaitu : kekuatan situasi (strength of the situation), dan tingkat persamaan antara observer dan target (the deggre of similarity beetwen observer and target).
2.    Processes
Terdapat tiga jenis proses empati :
-    Non cognitive processes , proses ini trjadinya empati disebabkan oleh proses-proses non kognitif artinya tanpa memerlukan pemahaman terhadap situasi yang terjadi.
-    Simple cognitive procces pada jenis empati ini hanya membutuhkan sedikit proses kognitif. Misalnya bila seseorang melihat tanda-tanda kurang nyaman pada orang lain atau juga pada saat itu antara observer dan target keduanya sama-sama berada pada situasi yang kurang nyaman akan membuat observer mudah berempati.
-    Advance cognitive procces dimana munculnya empatik merupakan akibat dari ucapan atau bahasa yang disampaikan oleh target. Misanya ketika target seorang istri mengatakan “saya telah diceraikan oleh suami”. Barangkali ketika mengatakan kalimat itu, target tidak menunjukkan wajah sedih atau terlihat menderita, ia datar-datar saja mengatakannya. Namun observer meresponnya dengan sikap yang empatik. Sikap empatik yang ditunjukkan oleh observer ini merupakan proses yang dalam membutuhkan pemahaman yang tinggi terhadap situasi yang sedang terjadi.
3.    Intrapersonal Outcomes
Affective outcomes dibagi lagi dalam dua bentuk yaitu : parallel outcomes sering disebut dengan emotion matching yaitu, adanya keselarasan antara yang kita rasakan dengan yang dirasakan atau dialami oleh orang lain. Dan reactive outcomes didefinisikan sebagai reaksi-reaksi afektif terhadap pengalaman-pengalaman orang lain yang berbeda. 
4.    Interpersonal Outcomes
Bila intrapersonal outcomes itu berefek pada diri observer, maka interpersonal outcomes berdampak kepada hubungan antara observer dengan target. Salah satunya bentuk dari interpersonal outcomes adalah munculnya helping behavior (perilaku menolong). Selain perilaku menolong empati juga dihubungkan dengan perilaku agresif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar